Cerita perjalanan panjangke ujung genteng
Pantai ujung genteng
menolak. Saat melewati Turtle Beach hotel, kami sempat turun untuk menanyakan harga kamar dan makan. Ternyata lumayan mahal. Perjalanan kami teruskan kembali. Kami melewati banyak pondok. Sepertinya banyak wisatawan yang sedang berlibur juga di sana, banyak mobil atau bus yang terlihat sedang parkir. Ada juga rombongan yang sedang mengadakan acara sehingga suasana tampak ramai. Mobil kami terus menyusuri jalan. Setelah melewati jembatan, tibalah di persimpangan jalan. Kami berbelok sesuai papan petunjuk arah yang menunjukkan jalan ke Pangumbahan. Jalan semakin jelek dan gelap, suasana sepi, hanya terlihat beberapa rumah. Melihat situasi ini, sopir kami menghentikan mobil agak lama karena ia ragu-ragu untuk meneruskan perjalanan. Ada pengendara bermotor di belakang kami yang agak mencurigakan. Ia ikut berhenti ketika mobil kami berhenti. Ketika kami menanyakan rute ke Pangumbahan, dengan ramahnya dia menjawab dalam bahasa sunda serta menyarankan agar kami terus saja ke Pangumbahan. Tetapi kami ragu-ragu, dan akhirnya tidak mau memaksakan diri untuk meneruskan perjalanan. Yang aneh, dia ikut berbalik arah juga ketika mobil kami balik. Saya kira dia ingin masuk salah satu rumah yang ada di situ. Bukannya ingin berburuk sangka, tetapi dia seolah-olah sedang menguntit mobil kami. Waktu itu rasanya perut sudah terasa sangat lapar. Di salah satu pondok berpagar bambu, kami berhenti untuk makan malam. Cukup lama juga menunggu hidangan karena menunya ikan kakap bakar yang baru dimasak saat itu juga. Sambil menunggu, kami bertanya-tanya tentang tempat wisata di ujung genteng. Karena sudah kelelahan, kami memutuskan untuk menyewa 2 kamar dan menginap di pondok itu saja. Sebelum tidur, pemilik pondok sempat mengajak kami melihat-lihat pantai di depan pondok. Karena suasana cukup gelap, saya benar-benar tidak menyadari kalau itu pantai, karena tidak terdengar suara deburan ombaknya. Pemilik pondok bersikap sangat ramah. Dia bilang kalau orang ujung genteng itu baik-baik, gak seperti di Jakarta. Kami merasa sudah cocok menginap di pondok itu, tanpa curiga sedikitpun. Kami sudah menyusun rencana untuk keesokan harinya ingin mengunjungi pantai apa saja. Bahkan untuk minggu depan kami berniat menyewa pondok itu lagi. Malam itu kami tidur dengan nyenyaknya karena kelelahan, sedikitpun tidak ada firasat atau kecurigaan apapun. Menjelang subuh saya dan teman sekamar sudah bangun. Saya mendengar suara-suara dari kamar sebelah. Mereka pasti sudah bangun pikirku. Saat sholat subuh saya mendengar klakson mobil dibunyikan. Saya pikir itu untuk membangunkan kami karena rencananya ingin berangkat jam 5 pagi untuk melihat sunrise di Pantai Ujung Genteng. Kamipun segera bersiap-siap. Alangkah terkejutnya ketika membuka pintu, dan mendengar teman-teman di kamar sebelah kemalingan. Sopir kehilangan tas yang di dalamnya ada dompet berisi ATM dan surat-surat penting. Untunglah HPnya sedang dicharge, dan kunci mobilnya ditaruh di saku celana, jadi masih selamat. Laptopnya juga untungnya ditaruh di dalam mobil. Sedangkan teman lain kehilangan celana panjangnya, dan di dalamnya berisi HP dan uang Rp 300 ribu. Menurut teman yang kehilangan itu, kejadiannya sekitar jam 4-an. Jadi sebelum subuh dia ke kamar mandi, sedangkan sopir dan temanku seorang lagi masih tidur. Waktu itu barang-barang masih ada. Sepertinya saat itu ada orang yang masuk dan tidak satu orangpun terbangun. Mungkin si maling punya kunci cadangan atau teman saya lupa mengunci kamarnya. Entahlah, yang jelas tempat itu memang tidak aman. Sebenarnya setelah sadar kehilangan barang-barangnya, teman saya langsung bergegas mengejar si pelaku. Tapi tidak ketemu karena hari masih gelap dan keburu turun hujan. Lagipula di belakang pondok ternyata areal semak-semak dan persawahan tanpa dipagari sehingga memudahkan maling untuk kabur. Untunglah nasib baik masih berpihak kepada kami, barang-barang masih bisa ditemukan. Setelah hari terang, salah seorang teman melihat ada benda warna hitam di areal persawahan, jaraknya sekitar 100 meter dari kamar kami. Dan ternyata benar, tas dan celana panjang itu ditinggalkan oleh si maling di situ. Dia hanya mengambil HP dan uang tunai, syukurlah karena tidak harus mengurus KTP dan segala macam yang bikin ribet. Meskipun kehujanan, tapi barang-barang itu masih bisa selamat. Yang aneh adalah respon si penjaga pondok. Ketika dilapori ada kehilangan, ekspresinya datar dan hanya bertanya “Kamarnya dikunci gak?” Sama sekali tidak ada pernyataan permintaan maaf atau sikap penyesalan apapun atas kejadian kemalingan ini. Si pemilik pondok yang tadi malam mengantarkan kami ke pantaipun tidak muncul pagi ini. Padahal dia yang paling banyak bicara dengan ramahnya. Saya curiga pasti dia tahu siapa pelakunya, atau mungkin memang sudah bekerja sama dengan si maling, entahlah.
keren gan postingan nya
BalasHapusmakasih gan :))
BalasHapusCantumin harganya juga donk gan, berapa ongkos keseluruhannya ???
BalasHapuslagi gak punya duit, tapi kayanya seru ngebolang baru
BalasHapus